Oleh Roy Franedya, Revi Yohana -
Rabu, 29 Januari 2014 | 13:42 WIB
Di tengah serbuan makanan cepat saji dan
restoran modern, bisnis kue tradisional masih menjanjikan. Potensi
pasarnya besar dan tak lekang oleh zaman. Tapi, ada resep yang harus
dicermati agar usaha itu bisa tumbuh dan berkembang.
Selain
pakaian, salah satu ladang bisnis yang menjanjikan dan tak pernah sepi
dari serbuan konsumen adalah bisnis kuliner. Kondisi ini didukung oleh
banyaknya jumlah penduduk dan gaya hidup modern yang menuntut kecepatan
dan serba praktis. Alhasil, gerai-gerai makanan terus bermunculan di
sepanjang jalan bak cendawan di musim hujan.
Bisnis kuliner yang
paling kentara berkembang biak dalam beberapa tahun terakhir ini adalah
jenis makanan modern yang mengusung embel-embel "cepat saji". Makanan
ini seperti burger, piza, pasta, dan donat. Meski begitu, makanan atau
kue-kue tradisional tak pernah kehilangan pamor dan pasarnya. Lihat
saja, penganan lokal itu tak hanya bisa dijumpai di pasar tradisional
namun juga di pusat perbelanjaan modern seperti mal dan supermarket.
Maklum,
bagaimanapun rasa kue tradisional paling sesuai dengan lidah orang
Indonesia. Peluang bisnis makanan tradisional masih terbuka lebar
lantaran negara ini terdiri dari banyak daerah dan beragam suku. Dan,
setiap daerah itu punya makanan tradisional dengan ciri khasnya.
Di
sisi lain, mayoritas masyarakat negara ini senang merantau ke daerah
lain. Otomatis, di tanah perantauan, orang tetap mengingat kampung
halamannya. Salah satu obat penyalur rasa kangen tersebut mencicipi
penganan tradisional dari daerah asalnya tersebut. Biasanya permintaan
makanan tradisional akan meningkat pesat pada momen-momen tertentu,
seperti bulan Ramadan.
Meski begitu, sesuai dengan semboyan
negara ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, makanan tradisional dari daerah
lain juga tak asing dan bisa dinik-mati oleh orang dari daerah lain.
Misalnya: tahu petis, batagor, pempek palembang, atau bakso tahu, yang
menjadi penganan favorit banyak orang dari berbagai daerah.
Margin tinggi Untuk
memulai bisnis penganan tradisional itu tidak susah. Anda dapat
mengetahui cara pembuatannya secara mudah melalui buku, majalah, atau
internet. Sedangkan bahan bakunya bisa diperoleh dari pasar tradisional.
Namun, jika ingin menjaga kualitas dan rasa, Anda bisa mendatangkan
langsung bahan bakunya dari daerah asal makanan tradisional itu.
Bahkan,
jika tidak sempat atau tak mampu membuatnya sendiri, Anda bisa
mengambil penganan tradisional itu langsung dari pembuatnya untuk
kemudian dijual kembali kepada konsumen. Keuntungannya, Anda tidak perlu
repot berbelanja hingga mengolah bahan baku menjadi penganan.
Selain
itu, Anda terbebas dari risiko menanggung kerugian akibat kudapan itu
tidak laku atau basi. Soalnya, rata-rata kue tradisional itu adalah kue
basah yang tidak tahan lama dan cuma awet dalam hitungan hari. Nah,
untuk mencegah risiko itu, Anda bisa membuat perjanjian dengan pemasok.
Jadi, Anda membayar sebagian belanjaan di belakang sekaligus
mengembalikan camilan yang tidak habis terjual.
Keuntungan
lainnya, seperti sudah menjadi rahasia umum, pedagang bisa memungut
untung lebih tinggi ketimbang pembuat penganan. Produsen yang menjual
penganannya ke pedagang biasanya cuma mengambil untung bersih 10%â25%
dari harga jualnya. Adapun pedagang bisa menjual 40%â100% di atas
harga beli kepada para konsumen.
Simak saja cerita Hary Yanuar,
pemilik Surabi Janda, di kawasan Dago, Bandung. Saban bulan, omzetnya
mencapai Rp 10 juta. Penjualan terbanyak pada malam Minggu. Dari
penjualan itu, dia mengantongi margin keuntungan hingga 40%. "Saban
bulan pendapatan bersih bisa mencapai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta,"
ujarnya.
Wieke Anggraini, pemilik Tahu Petis Yudistira, juga
mengaku memiliki margin keuntungan 40%. Omzet usaha kuliner wanita 35
tahun ini dari penjualan ritel sebesar Rp 3 juta per hari. Nilai
tersebut bisa lebih tinggi lagi bila mendapatkan pesanan dari perusahaan
untuk konsumsi rapat. Memang permintaan terbesar Tahu Petis Yudhistira
berasal dari korporasi. "Sejak awal kami fokus menyasar korporasi karena
sekali pesan jumlahnya banyak," ujar Wieke. Belakangan, dia mulai
menyasar konsumen ritel untuk memenuhi pesanan dari restoran atau acara
reuni, selain memenuhi pesanan individu.
Suniyah, seorang penjual
kue tradisional di sentra produksi kue di Kelurahan Penjaringan Sari,
Surabaya, mengaku penggemar kue basah tradisional buatan tangan masih
banyak. Setiap bulan, dia membuat sekitar 15.000 kue basah. Jumlah itu
di luar pesanan khusus yang biasanya berkisar 100 buah hingga 300 buah
per hari. Dengan kisaran harga Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per buah,
ditambah dengan penjualan kue kering, Suniyah bisa meraup omzet Rp 30
juta per bulan.
Meski terlihat menjanjikan, bukan berarti mudah
mereguk keuntungan dari bisnis kue tradisional. Ada beberapa hal yang
mesti diperhatikan agar bisa meraup keuntungan sebasah penganannya.
⢠Lokasi dan modalDalam
bisnis kuliner, lokasi merupakan salah satu faktor utama meraih
kesuksesan. Lokasi menunjukkan segmen pasar yang akan dibidik. Selain
itu, lokasi menentukan besaran modal yang harus disiapkan, penganan yang
disediakan berikut kisaran harga dan margin.
Nah, untuk memilih
lokasi yang tepat dibutuhkan survei terlebih dahulu. Tujuannya untuk
mengetahui potensi pasar dan memastikan makanan yang dijajakan itu
sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Survei juga bertujuan
mengetahui kondisi persaingan di area tersebut. Maklum, persaingan ketat
membuat bisnis yang baru dirintis akan sulit berkembang.
Pilihan
lokasi untuk menjajakan kue tradisional adalah di pasar tradisional,
pusat perbelanjaan modern atau mal, gerai lepas di pinggir jalan raya,
atau ruko di kompleks perumahan. Setiap lokasi itu tentu memiliki
hitungan biaya yang berbeda-beda.
Untuk sewa gerai di pusat
perbelanjaan modern, misalnya, Anda mungkin harus mengeluarkan uang Rp 4
juta hingga Rp 8 juta per bulan. Selain itu, Anda mungkin harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk merenovasi sedikit gerai tersebut agar
terlihat lebih menarik. Anda juga perlu merogoh kocek untuk menyiapkan
etalase serta membeli peralatan, seperti nampan dan pisau.
Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah konsep yang diusung pusat
perbelanjaan tersebut. Konsep yang tidak sesuai cenderung membuat
pengunjung enggan memilih produk yang Anda tawarkan.
Sementara
kalau memilih di pasar tradisional maka biaya yang dikeluarkan tentu
lebih murah. Sebab, biaya sewa lapak murah dan tidak perlu melakukan
renovasi. Keunggulan pasar tradisional adalah pengunjungnya selalu ramai
sehingga bisa beroperasi lebih lama.
Dalam menentukan lokasi,
Weike lebih banyak membuka gerai di daerah pemukiman komunitas Jawa yang
mempunyai daya beli besar serta menempel di pusat perbelanjaan.
Pertimbangannya, tahu petis dagangannya merupakan kudapan asli Jawa.
Adapun tempat semi
outdoor memudahkan konsumen mengetahui lokasi tersebut.
Adapun
Hary memilih lokasi yang ramai dan menjadi tempat nongkrong anak muda
seperti Dago. Pria berusia 29 tahun ini ogah membuka gerai di daerah
yang sudah ramai menjajakan surabi karena persaingannya sangat ketat.
⢠PasokanDalam
usaha dagang apa pun, dituntut kejelian untuk membaca selera pasar.
Begitu pula dalam usaha kue tradisional ini. Jenis makanannya harus
sesuai dengan segmen pasar yang dituju agar dagangan itu laris.
Ketika
mengawali usaha, Anda mungkin masih meraba-raba selera pasar. Nah,
tidak ada salahnya menjajakan ragam kue yang cukup banyak. Anda bisa
mendapatkan ragam kue itu dari sejumlah pemasok secara kulakan.
Konsekuensinya,
Anda perlu menyiapkan dana lebih banyak saat memulai usaha tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, Anda tentu bisa mengetahui jenis
penganan yang paling banyak disukai oleh konsumen. Nah, ragam kue itulah
yang lebih banyak dijajakan sehingga dagangannya laris.
Yang
terpenting, dalam berhubungan dengan pemasok, Anda harus menjaga mutu
dagangan. Buatlah perjanjian yang jelas dengan pihak pemasok. Selain
itu, Anda perlu juga memastikan kelangsungan pengadaan ragam kue
tersebut dari si pemasok. Jangan sampai pelanggan kecewa lantaran
kue-kue favoritnya raib dari gerai lantaran pasokannya terhenti.
Keberlangsungan
pasokan tidak menjadi kendala bila Anda memutuskan untuk memproduksi
sendiri kue tradisional itu. Konsekuensinya, Anda repot menyiapkan kue
itu sejak dari mencari bahan baku, memasak, hingga menjualnya.
⢠Harga dan pemasaranHarga
jual barang dagangan tidak sekadar ditentukan oleh ongkos produksi dan
hitung-hitungan keuntungan yang ingin diraup. Harga juga mencerminkan
target pasar yang dibidik. Harga tinggi tentu tidak cocok untuk semua
kalangan masyarakat. Sementara harga yang rendah akan membuat segmen
pasar yang dibidik bisa semakin luas.
Nah, dalam bisnis kue
tradisional ini, Anda tidak bisa bermain-main dengan harga tinggiÂ
untuk meraih segmen pasar menengah-atas. Pasalnya, banyak pelaku usaha
bisnis kue tradisional ini menawarkan harga murah, terutama di
pasar-pasar tradisional.
Lantaran banyak pemain yang menawarkan
harga murah, Anda harus mempromosikan usaha tersebut agar dikenal oleh
masyarakat. Masalahnya, mempromosikan usaha kue tradisional itu
susah-susah gampang. Maklum, tidak terlalu banyak ruang untuk
mempromosikan penganan ini. Salah satu yang mungkin bisa ditempuh adalah
mengikuti berbagai pameran, baik yang digelar korporasi atau instansi
pemerintah.
Promosi juga bisa dilakukan melalui jejaring sosial,
seperti Facebook dan Twitter. Maklum, interaksi masyarakat di dunia
maya saat ini semakin meningkat. Dus, promosi melalui jalur ini dinilai
cukup efektif. Apalagi, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah besar.
Untuk
memudahkan pelanggan mengingat produk yang dijajakan, bisa juga
memodifikasi bentuk kue tradisional. Cara lainnya adalah membuat
kemas-an yang menarik. Strategi ini bisa membedakan dagangan Anda dengan
pemain lainnya dan memikat mata konsumen.
Nah, setelah
berpromosi, proses pemasaran produk ini semakin gampang karena sudah
banyak yang mengenal jualan Anda. Untuk menggenjot pemasaran, Anda bisa
mengaktifkan layanan antar alias delivery order. Agar bisa memberikan
jasa ini dan menguntungkan, Anda perlu mematok pembelian minimal. Jangan
lupa, layanan delivery berarti tambahan biaya.
Setelah usaha
berjalan, jangan lupa menjaga komunikasi dengan para pelanggan lama.
Pasalnya, permintaan kue tradisional memang tinggi tetapi permintaan
tersebut belum tentu datang setiap hari. Nah, jika menjaga komunikasi
dengan pelanggan lama maka mereka akan memiliki loyalitas dengan
penganan yang Anda jual.
Wieke bilang, salah satu kunci
keberhasilannya mengembangkan Tahu Petis Yudistira adalah rajin
mengikuti pameran. Dalam pameran itu, dia bertemu banyak orang yang
merupakan pembeli potensial. "Kami juga menjajaki mitra-mitra yang
tertarik mengembangkan bisnis ini," tandasnya.