Minggu, 10 November 2013

10 Kisah Orang Sukses Setelah Resign

Pernahkah Anda berharap ingin berhenti dari pekerjaan sekarang dan mewujudkan mimpi Anda? Bisa saja nasib baik berpihak Anda, seperti orang-orang ini. Mereka bisa mendulang sukses setelah meninggalkan pekerjaan yang memberikan mereka gaji tetap.

Kesuksesan setelah berhenti dari pekerjaan kantoran Anda memang bukan jaminan. Namun untuk beberapa orang bisa beruntung setelah mengatakan 'Saya berhenti". Dengan kerja keras dan kebulatan tekad, mereka kini bisa berbalik mendulang sukses.

Berikut kisah sukses orang-orang setelah berhenti dari pekerjaannya. Orang-orang ini bisa mendulang jutaan dolar dan menciptakan kekayaannya sendiri. Berikut 10 orang-orang beruntung itu, seperti dikutip dari CNBC, Rabu (26/1/2012).

1. Shep dan Ian Murray, Vineyard Vines



Dua bersaudara, Shep dan Ian Murray ini merasa frustasi dengan pekerjaan mereka di belakang meja pada sebuah perusahaan di Manhattan. Shep Murray sebelumnya adalah seorang Account Executive di sebuah perusahaan periklanan, sementara Ian Murray bekerja di sebuah perusahaan public relation kecil. Pada tahun 1998, Shep Murray mengundurkan diri, disusul saudaranya 10 menit kemudian.

Mereka selanjutnya mengambil tunai dari kartu kredit untuk mulai mendirikan Vineyard Vines, sebuah dasi yang berbasis di Martha's Vineyard. Ide mereka mengambil uang tunai dari kartu kredit sempat dicemooh dan dinilai bodoh.

Pada awalnya, mereka menjual dasi-dasi itu di tas ransel, di pantai, di kapal dan di bar. Mereka menjual habis 800 dasi dalam pekan pertama. Mereka dengan cepat memasannya lagi, membayar utang dan pindah ke kantor pertamanya. Satu dekade kemudian, bisnis mereka kini meliputi seluruh clothing line.

Saat ini ada 18 toko ritel Vineyard Vine di seluruh negara, dan jaringannya dapat ditemukan di hampir 500 toko. Vineyard Vine diperkirakan mampu mencetak penjualan hingga US$ 100 juta pada tahun 2011.

2. Rick Wetzel dan Bill Phelps, Wetzel's Pretzels



Rick Wetzel dan Bill Phelps dulunya sama-sama bekerja di Nestle ketika konsep Wetzel's Pretzels terlahir. Keduanya sedang dalam perjalanan bisnis ketika Wetzel mengatakan kepada Phelps tentang ide istrinya untuk membuat pretzel yang besar dan lembut dan dijual di mal. Malam itu, mereka duduk di bar dan menggambarkan rencana bisnisnya pada sebuah kain serbet.

Wetzel kemudian menjual Harley Davidson miliknya untuk mendanai bisnis yang dijalankannya di waktu senggang itu. Mereka menggandeng partner untuk menciptakan resep di dapur Phelp. Dan ketika waktunya tiba untuk membuka toko, mereka mencoba meyakinkan pemilik mal untuk datang ke rumah mereka dan mencoba kreasinya. Dan ternyata pemilik mal itu menyukai rasanya, sehingga mau menyewakan tempat untuk toko pertama Wetzel's Pretzels.

Itu adalah tahun 1994. Setahun kemudian, Wetzel dan Phelps mendapatkan keberuntungannya ketika mereka mendapatkan beberapa paket penawaran (untuk berhenti) dari Nestle. Mereka membuka lagi beberapa toko sebelum memutuskan untuk mewaralabakannya pada tahun 1995. Saat ini tercatat ada 250 toko Wetzel's Pretzel di seluruh AS, dengan lokasi di Jepang dan India diharapkan dibuka pada tahun ini. Penjualan di seluruh wilayah diperkirakan mencapai US$ 100 juta dengan pertumbuhan penjualan mencapai 9% pada tahun 2011.

3. Terry Finley, West Point Thoroughbreds



Terry Finley menyelesaikan tugas militernya pada tahun 1990 ketika dia dan istrinya, Debbie kemudian membeli kuda seharga US$ 5.000. Kuda yang diberi nama Sunbelt itu memenangkan pacuan pertamanya dan Finley pun tersangkut.

"Melakukan apa yang Anda cintai dan membuatnya profesional adalah jauh lebih baik ketimbang hanya sekedar bekerja untuk hidup," jelas Finley.

West Point Thoroughbreds sekarang membeli 20-25 kuda setiap tahun, membentuk kelompok investor yang dapat meraup laba ketika kuda-kudanya menang, mengembangbiakkan dan menjual. Sejak tahun 2007, kuda-kuda mereka telah memenangkan lebih dari 20% pacuan, sehingga membuat mereka bisa meraup US$ 16 juta. Penjualan tahunan mereka mencapai US$ 7 juta.

4. Dana Sinkler dan Alex Dzieduszycki, Terra Chips



Dana Sinkler dan Alex Dzieduszycki sebelumnya bekerja untuk chef bintang, Jean-Georges Vongerichten di restoran bintang empatnya, Lafayette di New York. Mereka kemudian memutuskan berhenti dan memulai bisnia ketering pertamanya. Mereka ingin menciptakan sebuah sajian khusus untuk disajikan di bar, namun mereka ingin sesuatu yang berbeda dari elaborasi satu piringan penuh sayuran atau crudité platters, yang populer pada saat itu. Jadi pada tahun 1990, mereka bereksperimen dengan menggoreng sayur-sayuran di dapur apartemen kecil Sinkler.

Dan ternyata keripik sayur-sayuran kreasi mereka 'Terra Chips' menjadi sangat populer dan bisa dijual di toko. Sebuah perusahaan swasta membeli 51% saham mereka pada tahun 1995, dan pada tahun 1998 Hain Celestial membeli Terra Chips sebagai bagian dari kesepakatan senilai US$ 80 juta dengan 3 perusahaan lain. Pada saat itu, ujar Dzieduszycki , Terra Chips memiliki penjualan hingga US$ 23 juta.

Sinkler dan Dzieduszycki telah bergerak ke perusahaan baru. Sinkler kini telah memulai bisnis restoran baru yang disebut Hubee D's, sementara Dzieduszycki memulai Julian's Recipe, yang menjual waffle beku.

5. Adam Lowry dan Eric Ryan, Method



Adam Lowry dulunya bekerja sebagai ilmuwan iklim, sementara Eric Ryan bekerja di bidang periklanan. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mengembangkan bisnis produk pembersih yang ramah lingkungan, Method. Pada saat itu tidak banyak pilihan untuk produk kebersihan yang tidak mengandung unsur-unsur kimia berbahaya. Sehingga dua orang yang berteman baik sejak anak-anak itu mulai melakukan riset dan Lowry bahkan mencampur bahan kimia di bak cuci apartemen mereka.

Mereka juga menarik uang tunai dari kartu kredit, dan menggabungkan dana hingga US$ 200.000 dari keluarga, teman dan memulai Method pada tahun 2000. Method telah menjadi sebuah perusahaan swasta dengan pertumbuhan paling cepat di Amerika dengan produk sekitar 100 mulai dari sabun tangan hingga sabun cuci piring dan pembersih kamar mandi. Pendapatan kotor perusahaan itu diperkirakan mencapai US$ 100 juta.

6. Rod Johnstone, J/Boats



Rod Johnstone berusia 38 tahun dan bekerja sebagai sales untuk publikasi kapal ketika memutuskan untuk berhenti dan mewujudkan mimpi perahu layarnya. Ia semula sangat menikmati, namun kemudian merasa pertumbuhannya tidak cukup cepat. Orang tuanya kemudian mendonasikan kayu yang bernilai beberapa ratus dolar, dan Johnstone kemudian mulai membangun kapal di garasinya. Satu setengah tahun kemudian kapal impiannya rampung dan ia mulai mengikutkannya dalam perlombaan. Didorong oleh kesuksesannya, Johnstone memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mewujudkan impiannya.

Itu adalah tahun 1977. Setelah itu, J/Biats telah membangun lebih dari 13.000 kapal, dari yang kecil hingga kapal pesiar mewah sehingga mendatangkan pendapatan hingga jutaan dolar. Desain awal Johnstone, J/24 kini ada di Sailboat Hall of Fame.

7. Andy Schamisso, Inko's White Tea



Pada tahun 2002, Andy Schamisso bekerja sebagai public relations namun tidak merasa nyaman. Suatu hari, ketika istrinya tidak dapat menemukan teh putih yang jarang untuk es tehnya, Schamisso menemukan panggilannya. Ketika sedang mencarinya di internet, ia menemukan keuntungan keseatan dan memutuskan membawa resep istrinya ke orang lain.

Jadi setelah 13 tahun di perusahaan PR, Schamisso memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai Inko’s White Tea, yang dinamakan seperti anjingnya. Setelah mendapatkan cukup uang untuk membuat 6.000 kotak, Schamisso pergi ke jalanan di New York untuk menjual produknya. Setahun kemudian, order sudah beruba dari kardus-kardus ke truk-truk. Saat ini ada 14 jenis Inko’s White Tea di pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan tahunan perusahaan mencapai US$ 3 juta.

8. Kim dan Beaver Raymond, Marshmallow Fun Company



Kim dan Beaver Raymond, keduanya sama-sama mengatakan "Saya Berhenti" setelah mainan yang semula mereka ciptakan untuk anak-anak mereka berubah menjadi mainan yang sangat hits. Dua bersaudara itu sebelumnya sama-sama bekerja di industri fesyen. Pada tahun 2002, mereka membuat mainan tembakan dari pipa PVC untuk pesta ulang tahun anak mereka. Dipicu oleh kesuksesan pertempuran makanan yang mereka saksikan, pasangan itu dan beberapa temannya kemudian menggambarkan bagaimana membangun dan memasarkan mainan baru tersebut.. dan Marshmallow Fun Company terlahir.

Pada tahun 2010, Marshmallow Fun Company menjual lebih dari 7 juta tembakan mainan anak-anak.

9. Rocky Patel, Rocky Patel Cigars



Rocky Patel merupakan pengacara entertainment Hollywood, sebelum akhirnya sukses mengembangkan bisnis cerutu. Setelah didekati untuk kemungkinan memroduksi brand cerutunya sendiri, Patel memutuskan untuk mengubah kecintaannya menjadi sebuah karir. Padahal teman-teman dan koleganya telah mengingatkan dia yang akan meninggalkan praktik hukumnya untuk industri yang ia belum ketahui. Namun Patel melihat sebuah kesempatan untuk menciptakan produk yang ia pikir hilang dari pasar. Jadi iapun meninggalkan bisnis hukum dan mulai memroduksi cerutu pada tahun 1996, mengubah rumahnya di California menjadi kotak tembakau.

Setelah awal yang sangat sulit, Patel memutuskan untuk memindahkan bisnisnya ke Florida dimana sebagian besar perusahaan cerutu AS berada. Ia mendapat sukses besar pada tahun 2003 dengan Rocky Patel Vintage Series yang mendapatkan peringkat tinggi dan pujian.

Rocky Patel Cigars saat ini memroduksi 200.000 cerutu setiap tahunnya, dengan penjualan lebih dari US$ 40 juta pada tahun 2011.

10. Paul English, Kayak



Paul English bekerja di sebuah perusahaan modal, Greylock pada tahun 2004 ketika Steve Hafner yang mendirikan Orbitz mengungkapkan ide untuk membuat perusahaan perjalanan yang berbeda. Setelah melakukan pertemuan selama 1 jam dan 3 gelas minuman, English dan Hafner membentuk Kayak, sebuah mesin pencari perjalanan online. English pun berhenti dari pekerjaannya di Greylock dan mulai menjadi chief technology officer untuk website baru itu.

Kayak menjadi tempat pencarian ratusan situs perjalanan yang lengkap karena ada tarif pesawat, hotel, sewa mobil dan kini berada di peringkat 1 untuk pasar tersebut. Kayak juga menyampaikan dokumen untuk IPO pada tahun 2010, meski hingga kini belum juga dilakukan. Perusahaan tersebut dilaporkan meraup pendapatan hingga US$ 170,6 juta pada 9 bulan pertama di 2011. Kayak memproses 670 juta pengguna informasi perjalanan dan memiliki 5 juta download aplikasi mobile pada periode tersebut.

Kamis, 07 November 2013

Budidaya Ikan Botia & Arwana Silver Andalan Beltim

Budidaya Ikan Botia
Wakil Bupati Belitung Timur, Zarkani Mukri didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kelautan dan Perikanan, Dr. Achmad Pornomo dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya (P4B) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Tri Heru Prihadi melakukan pengguntingan pita, menandai diresmikannya hatchery (tempat penetasan) ikan hias di Balai Budidaya Ikan (BBI) air Tawar Desa Mempaya Kecamatan Damar, Senin (19/5) Pagi.
Acara peresmian dihadiri Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, I Wayan Subamia, Kepala Peneliti BPPBIH, Dr. Ofri Johan, Ketua Tim Diseminasi Ikan Hias KKP RI, Dr. Wartono Hadie, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, Pimpinan SKPD di lingkup Pemkab Beltim, staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bangka-Belitung, para camat dan kades, wartawan media nasional dan lokal, serta kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) di Kabupaten Beltim.
Kepala DKP Kabupaten Beltim, Ferizal menjelaskan bahwa potensi sektor perikanan budidaya di Kabupaten Beltim sangat menjanjikan. Pengembangan sentra-sentra sektor kelautan perikanan dianggapnya mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dan menggerakkkan ekonomi masyarakat khususnya sebagai antisipasi pasca penambangan.
“Kita ingin menjadikan Kabupaten Beltim sebagai salah satu pemasok ikan hias di Indonesia. Ikan hias yang akan dikembangkan adalah ikan hias Botia (Chromobotia Macracanthus) dan Arwana (Scleropages sp)Silver, khas Belitung,” terang Ferizal.
Dipilihnya ikan Botia dan Arwana karena ikan hias ini dianggap mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, mempunyai pasar dunia yang menjanjikan, serta cocok dengan kondisi air yang ada di Kabupaten Beltim. Kabupaten Beltim merupakan daerah ketiga di Indonesia yang dipilih oleh KKP RI untuk dilakukan pengembangan ikan botia.
Kepala P4B KKP RI, Dr. Tri Heru Prihadi menambahkan upaya ini dilakukan sebagai tindak lanjut kerjasama yang diusung BPPBIH dengan DKP Kabupaten Beltim tentang penerapan dan pengembangan teknologi budidaya ikan hias, khususnya Botia dan Arwana. Sebelumnya, berbagai persiapan dilakukan mulai dari pembuatan sarana prasarana budidaya, penguatan keahlian SDM, hingga inventarisasi potensi lokal perikanan dan kelautan, jelasnya
“Sejak penandatanganan perjanjian kerjasama pada 22 April 2013 lalu di Jakarta, kita akan berkomitmen untuk merapkan ruang lingkup kerja sama yang meliputi, pengadaan dan pengelolaan induk ikan, domestikasi adaptasi dan karantina induk ikan, dan pemijahan, perawatan larva, benih hingga calon induk,” kata Tri
Dalam jumpa pers yang dilakukan seusai acara peresmian, Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan KKP RI mengungkapkan Balitbang akan melakukan penelitian terkait rencana pengembangan ikan hias lainnya, dalam upaya untuk mengembangkan potensi perikanan budidaya, terutama dalam memanfaatkan potensi kolong-kolong bekas tambang timah dan kaolin yang tersebar di Kabupaten Beltim.
“Kita melihat banyak potensi perikanan yang dapat dikembangkan, kita akan meneliti dulu bagaimana kemungkinan untuk melakukan pengembangan budidaya ikan kosumsi dan ikan hias pada kolong-kolong bekas tambang. Misalnya apakah memungkinkan untuk mengembangkan ikan patin, lele, koi, dan juga lainnya”, pungkas Achmad
Wakil Bupati Beltim, Zarkani Mukri mengucapkan terima kasih kepada tim dari KKP RI yang telah memilih untuk mengembangkan budidaya ikan hias Botia. Ia berharap Kabupaten Beltim akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakatnya melalui budidaya ikan hias dan ikan konsumsi.
“Kita harap dengan ada kerjasama ini masyarakat kita khususnya para pembudidaya ika akan merasakan manfaatnya. Kita ingin masyarakat tidak hanya mampu menjual ikan yang diperoleh dari habitatnya tapi juga mampu membudidayakannya, sehingga target kita sebagi salah satu pemasok ikan hias di dunia dapat terwujud,” harap Zarkani
Acara peresmian hatchery ikan hias yang berlangsung di tengah guyuran hujan ini juga diisi dengan presentasi dari Tim Diseminasi Ikan Hias, Dr. Wartono Hadie, tukar menukar cendera mata antara pihak KKP RI dengan Pemkab Beltim, peninjauan ke kolam dan aquarium budidaya ikan, serta ditutup dengan konfrensi pers. (Sumber : Sinarpaginews.com)

Selasa, 05 November 2013

Pernah Gagal 12 Kali, Kini Fauzan Sukses Garap Bisnis Lele


Berawal dari coba-coba,usaha budi daya lele sangkuriang yang dirintis Fauzan Hangriawan,25,telah memberikan kontribusi sangat berarti tidak hanya bagi dirinya,tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya.
Fauzan adalah salah seorang sosok wirausaha muda yang mengembangkan pembudidayaan bibit lele dengan sistem plasma atau kemitraan. Dengan 20 petani binaannya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atmajaya ini bersama-sama mengembangkan usaha pembudidayaan lele dengan sistem manajemen kelompok, dimulai dari pembenihan, pembesaran hingga penjualan.
Pria yang hobi olahraga ini telah menunjukkan bakat kewirausahaan sejak masih duduk di bangku SMP. Dia mengaku telah melakukan usaha kecil-kecilan meskipun sifat awalnya hanya membantu teman untuk menjualkan barang seperti kerupuk dan nasi. Awalnya dia mengaku iseng belajar budi daya lele karena melihat potensinya di samping menyukai bidang agrobisnis seperti peternakan dan perikanan.
“Nah saya ingin belajar dan di sisi lain saya juga membaca dari media lain bahwa lele itu punya prospek,makanya saya coba,” ujar Fauzan saat ditemui di lokasi usahanya di Jalan Purwa Madya I Blok W25 Cipedak,Jagakarsa, Jakarta Selatan belum lama ini.
Fauzan lantas memulai membudidayakan lele dumbo terlebih dahulu pada September 2009. Proses pembelajarannya dilakukan secara autodidak melalui buku dan internet.Namun di tengah perjalanannya, dia menemukan banyak kendala di lapangan.“Usaha lele tidak semudah yang kita bayangkan,” ujar pria kelahiran Pontianak, 24 Juli 1986,ini.
Pada awalnya, dia mendapatkan hasil usaha yang tidak maksimal. Mulai dari gagal panen, penjualan yang tidak sepadan dengan biaya produksi, serta tingginya tingkat kematian lele.Hingga pada akhirnya Fauzan membaca sebuah artikel di sebuah harian nasional yang membahas seorang sosok pembudi daya lele sangkuriang bernama Nasrudin.
Dari situlah dia kemudian meneguhkan niat untuk berguru kepada Nasrudin. Setelah mengikuti pelatihan,Fauzan langsung mempraktikkan ilmunya dalam rentang waktu dua minggu. “Di bulan November itu saya diperkenalkan oleh teman saya itu melalui surat kabar waktu itu, sosok Pak Nasrudin.Seminggu kemudian saya niatkan untuk bersilaturahmi dan belajar dengan beliau serta ikut pelatihan dan langsung buka satu kolam,”ujar Fauzan yang menamakan usahanya Sylvafarm itu.
Sembari membuka satu kolam, Fauzan tetap belajar dan berbagi dengan Nasrudin hingga akhirnya memberanikan diri untuk membuka delapan kolam. Seterusnya menjadi 25 kolam hingga akhirnya menjadi 75 kolam. Dari kolam tersebut Fauzan dapat menghasilkan 15.000 ekor bibit lele sangkuriang setiap bulannya. Setelah memahami teknologi serta pemahaman yang mendalam budi daya lele sangkuriang,dia kemudian mencoba mengajak warga dan petani lele yang ada untuk bekerja sama membudidayakan lele sangkuriang.
Dalam model kerja sama ini, Fauzan bertindak sebagai pembenih dan pembesaran lele diserahkan kepada para petani.Untuk mengegolkan usahanya, Fauzan mengeluarkan modal awal Rp4,5 juta.
“Teknologinya kita bantu secara gratis dan kita dampingi proses budi dayanya. Kita jelaskan dari A sampai Z,bahkan hingga pemasaran kita bantu juga. Karena yang pertama mereka tanyakan adalah ke mana mereka menjualnya karena belum paham,”imbuhnya.
Dia mengakui,sistem ini sangat membantu dalam hal efisiensi lahan sekaligus bisa memberikan efek langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Selain itu, model plasma juga memberikan lapangan pekerjaan. “Jadi mereka bisa praktik di lahan masing-masing, tapi kuncinya kita berikan pendampingan secara terus-menerus supaya panennya sukses dan hasilnya bisa kita ambil,” tambah anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Lalu, dari mana Fauzan mendapatkan lahan untuk usahanya? Menurutnya, lahan yang dipakai merupakan hasil kerja sama dengan pemilik lahan. Dia menerapkan sistem bagi hasil. Pemilik lahan memberikan lahan,sementara untuk infrastruktur, teknologi, pekerja, dan manajemen karyawan dikerjakan langsung oleh Fauzan. Dia mengakui, usaha yang dianggap selingan tadi telah memberikan hasil yang cukup memuaskan, bahkan hal itu dirasakan oleh para petaninya. Oleh karena itu Fauzan berniat fokus mengembangkan usaha ini.Untuk memperkuat usaha dan pemahaman yang sama,Fauzan bersama para petaninya selalu bersilaturahmi melalui perkumpulan serta sharing sebulan sekali untuk membahas masalah yang ada seperti penanganan penyakit atau sekadar berbagi informasi terbaru.
Menurut penuturan Fauzan, proses pembibitan lele yang ditekuninya dimulai dari mengawinkan induk lele hingga proses peneluran. Bibit yang sudah ditelurkan itu dibesarkan hingga ukuran 5–6 cm sebelum akhirnya dijual kepada petani ataupun pembeli. Setiap benih lelenya dijual seharga Rp150 per ekor.Selanjutnya benih lele tersebut dipelihara selama 50 hari hingga dua bulan untuk kemudian dijual ke konsumen.Masa panen lele sangkuriang relatif lebih cepat dibandingkan jenis lele dumbo yang butuh waktu lebih lama, yakni tiga bulan.
“Kalau mereka (petani) belum menemukan pembeli,agar mereka semangat, saya beri jaminan dengan membelinya.Kalau sudah 2–3 kali panen biasanya mereka akan menemukan pembelinya sendiri dan kita bebaskan mau jual ke siapa saja,”katanya.
Jika ada petani yang menjual kepada Fauzan, lelenya dihargai Rp11.000/kg. Dengan demikian, petani bisa memilih apakah mau menjual kepada Fauzan atau pembeli lain yang menawarkan harga lebih tinggi.“Jadi kita tidak boleh menghalangi mereka untuk mencari untung lebih, nggak ada ikatan,” ujarnya.
Saat ini, kapasitas produksi Sylvafarm dari empat area pembibitan adalah 15.000 ekor per bulan. Jumlah tersebut menurut Fauzan masih jauh dari permintaan pasar yang mencapai 300.000 ekor per bulan. Fauzan mengaku,dari penjualan bibit bisa memperoleh omzet hingga Rp22,5 juta per bulannya dengan laba bersih sekitar Rp12 juta. Itu belum termasuk penjualan dari usaha pembesaran lele yang dijual ke konsumen akhir. Adapun dari hasil pembesaran setiap harinya dia bisa menjual hingga 200 kg lele sangkuriang ke pasar.
“Yang paling besar pengeluaran untuk biaya pakan karena pakannya sendiri itu dari pabrik dan itu selalu mengikuti harga pasar dan sering kali naik. Kalau dihitung- hitung dengan biaya karyawan, pakan, dan biaya tak terduga seperti terpal, jaring, ongkos transportasi, bersihnya Rp12 juta per bulan,”ujarnya.
Untuk mengembangkan usahanya, dia pun terus berupaya membuat jaringan khusus petani pembenih dengan cara mendidik petani-petani yang memiliki kemampuan lebih telaten dan detail. Pemenang pertama program Wirausaha Muda Mandiri dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ini mengungkapkan, sejak memulai usahanya hingga kini,sudah memiliki 20 petani binaan.
Dia juga mempekerjakan empat karyawan yang bertugas menjaga dan memberi pakan bibit lele tersebut. Terkait dengan pemasarannya, selama ini Fauzan banyak menjual ke pasar tradisional,usaha warung padang,warung tegal, dan sudah memberikan pasokan untuk salah satu usaha waralaba pecel lele “Lele Lela”. Dia mengaku belum memutuskan menjadi pemasok utama karena masih memiliki kendala lahan dan produksi.
Fauzan mengaku selain lahan, kendala lain lebih kepada masalah internal seperti sumber daya manusia, penanganan penyakit, serta keadaan cuaca yang saat ini cenderung berubah-ubah.
Fauzan boleh jadi kini tinggal menikmati jerih payah hasil usaha lele sangkuriangnya. Namun,siapa sangka kalau jauh-jauh hari sebelumnya dia pernah mengalami masa-masa kurang menyenangkan karena usahanya bangkrut.
Tidak tanggung-tanggung,bangkrutnya usaha Fauzan tidak hanya satu atau dua kali.Dia bahkan mengaku sudah 12 kali gagal berbisnis dari sejumlah usahanya yang digelutinya. Namun, dasar insting bisnisnya yang selalu jalan,Fauzan sama sekali tidak kapok.Dia terus bangkit dan mencoba usaha baru hingga menemukan hokinya di bidang usaha budi daya lele yang kini digarapnya.
“Baru fokus jualan itu semester dua saat kuliah.Pertama kali saya membuka usaha siomay,lalu Chinesefood,hingga usaha konveksi.Namun, hampir semuanya bangkrut,kecuali yang konveksi meski sekarang sifatnya pasif karena saya hanya mempunyai sahamnya,”kenang Fauzan belum lama ini.
Kini,Fauzan telah memiliki empat area pembenihan lele dengan luas masing-masing area 500 m2.Total kolamnya yang dimilikinya pun terus bertambah dari awalnya hanya satu kolam hingga kini menjadi 75 unit kolam pembenihan.Selain itu,ada 20 unit kolam pembesaran yang ditempatkan pada petani-petani binaannya di Jalan Purwa Madya I Blok W25 Cipedak,Jagakarsa,Jakarta Selatan.
Fauzan ternyata punya cerita lain di balik Sylvafarm yang dijadikan nama usaha budi dayanya.Dia mengaku nama itu diambil dari usaha peternakan ayam orang tuanya yang dulu bangkrut.“Saya punya cita-cita ingin mengembangkannya lagi.Karena itu,saya berikan nama tersebut,”ungkapnya.
Sadar pernah mengalami jatuh bangun dalam berusaha,Fauzan memiliki idealisme sebagai wirausaha muda dengan mengajak rekan-rekannya sesama anak muda agar mau menjadi wirausahawan. Selain memiliki dampak finansial yang baik bagi pribadi,dia menilai menjadi wirausahawan secara sosial akan membantu masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan.Awalnya,niat menjadi wirausahawan ditentang orang tua.Namun,secara perlahan tapi pasti orang tuanya justru mendukung 100 persen.
“Selama ini teman-teman sebaya saya atau adik,hanya fokus mencari pekerjaan. Saya ingin menyadarkan,ayolah sebagai anak muda sudah saatnya kita juga harus  menciptakan lapangan pekerjaan,”tuturnya bersemangat.
Berbekal motivasi itulah Fauzan terpilih mendapat penghargaan sebagai salah satu wirausaha muda sukses dari Kementerian Koperasi dan UKM pada acara Gerakan Wirausaha Nasional dan Pemenang pertama Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2010 untuk kategori mahasiswa bidang industri dan jasa.
Menurut Fauzan,untuk belajar berbudi daya lele cukup menyisihkan uang Rp350.000 untuk membeli benih,pakan,dan terpal berkapasitas 1.000 ekor.Lahan yang digunakan pun relatif kecil,hanya 10 m2. Sebagai perbandingan,untuk skala usaha dengan ukuran kolam 50 m2 diperlukan modal Rp1,4 juta.
Ajang wirausaha muda dari Kementerian Koperasi dan UKM juga menjadi berkah tersendiri bagi Fauzan.Kini usaha budi dayanya banyak mendapat kunjungan dari masyarakat yang ingin belajar memelihara lele.“Biasanya Sabtu–Minggu banyak yang datang.Ke depan, kami akan buat kelas khusus dan dibuat rutin supaya mereka bisa belajar dan tanya jawab secara lebih detail,”pungkasnya.(Erichson Sihotang /Koran SI/wdi)