Kamis, 26 Juli 2012

Kisah Nyata, Ketika Rugi Berbalik Untung

Kalimat itu terasa puitis, memang begitulah kisah yang pernah terjadi dalam kehidupanku sendiri sebagai pelaku di dunia usaha ritel. Ini menyangkut kisah hidupku yang lain. Kisah ini aku tujukan kepada teman-teman pemula atau calon pelaku UKM, falsafah yang terkandung didalamnya adalah “jangan pernah menyerah, jatuh bangun itu biasa, kita harus coba lagi dan coba lagi, sampai kita menemukan pelabuhan usaha yang lebih baik lagi”.
—–
Selepas aku selesai kuliah beberapa tahun yang lalu aku segera merintis usaha, aku mengikuti kursus pembuatan donat dan buka usaha sebagai juragan donat, ya donat kentang yang rasanya enak itu. Aku beli mesin mixer penggiling tepung yang harganya cukup mahal, beli juga beberapa gerobak dorong untuk anak buahku berkeliling menjajakan donat di kompleks perumahan disekitar rumahku. Aku juga segera membuka outlet di dua buah mall terkenal yang cukup ramai pengunjungnya di kota Bandung, aku buat juga tempat jualan warung tenda dan penjualan dengan sistem titip jual ke beberapa rumah Game Online atau Warung Internet (Warnet) dengan memakai kendaraan roda dua sebagai delivery service.
—–
Berusaha dibidang kuliner atau jajanan seperti itu sangat besar resikonya, disamping pesaing yang juga punya usaha donat yang sama cukup banyak, yang lebih kendala lagi karena donat itu sendiri tidak tahan lama, tidak bisa lebih dari 24 jam, dengan kata lain donat yang dibuat pagi sampai sore masih segar tapi besok paginya sudah tidak bisa dijual lagi, akhirnya aku sedekahkan saja kepada para satpam yang berjaga di daerah kompleks rumahku. Bukan satu atau dua tapi puluhan donat bahkan pernah ratusan donat terbuang tanpa bisa dijual lagi.
—–
Suatu ketika ditengah usahaku yang krisis dan merugi terus menerus, seorang famili mengajak aku joint modal guna mendukung modalnya di bidang usaha penjualan busana muslim, dia berjanji akan memberikanku imbalan pembagian keuntungan yang cukup besar, dan imbalan ini pada saat itu sangat berarti sekali bagiku dibanding penghasilan usahaku dibidang perdonatan yang sudah mulai tersendat-sendat itu.
—–
Aku berembuk dengan keluarga yaitu bapak, ibu dan kakakku, meminta pendapat dan persetujuan mereka. Kesimpulannya kenapa kita harus usaha dengan cara joint modal seperti itu, kenapa kita tidak gunakan modal kita untuk buka usaha penjualan busana muslim sendiri? Akhirnya aku sewa outlet dan buka usaha penjualan busana muslim sendiri, saat ini syukur alhamdulillah usaha itu terus berkembang dan semakin berkembang, sehingga usahaku yang dulu rugi kini telah berbalik menjadi untung.
—–
Bandung, 27 September 2013
—–
+++ T A R I +++